Fariedmakmur’s Blog


ANALISIS KUALITATIF KARBOHIDRAT
Mei 8, 2009, 5:43 am
Filed under: Uncategorized

BAB I
ANALISIS KUALITATIF KARBOHIDRAT

1. TUJUAN
1.1 Untuk mengetahui kadar karbohidrat di dalam larutan uji yang telah ditentukan
1.2 Untuk mengetahui reaksi yang akan terjadi dalam larutan uji

2. LANDASAN TEORI
Dalam pemeriksaan Analisis kualitatif karbohidrat,maka dapat disimpulkan bahwa apakah dalam larutan uji yang telah disediakan tersebut memiliki kandungan karbohidrat atau tidak dengan cara melihat reaksi yang terjadi dalam pemeriksaan yang telah diketahui prosedurnya.

3. ALAT DAN BAHAN
3.1 alat yang digunakan
 Tabung reaksi
 Pipet Ukur
 Pipet tetes
 Penangas air ( Waterbath)
 Karet penghisap
3.2 Bahan yang digunakan
 Larutan Glukosa 1%
 Larutan Laktosa 1%
 Larutan Maltosa 1%
 Larutan Galaktosa 1%
 Larutan Sukrosa 1%
 Larutan Amylum 1%
 Reagen Molisch
 Reagen benedict
 Reagen Barfoed
 Reagen Seliwanof
 Reagen Iodin
 HCL 0,6 N
 NaOH 6 N

4. PROSEDUR KERJA
4.1 Uji Molisch
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Isi tabung reaksi maing-masing 2 ml larutan glukosa, maltosa, sukrosa, galaktosa dan amilum kedalam tabung reaksi
3. Tambahkan 2 tetes reagen molisch kedalam masing-masing tabung tersebut
4. Aduk dengan baik sampai tercampur rata
5. Tambahkan dengan perlahan-lahan melalui dinding tabung dengan asam sulfat pekat sebanyak 5 ml.
6. Perhatikan perubahan yang terjadi

4.2 Uji Benedict
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Isi tabung denagn reagen benedict sebanyak 5 ml ke masing-masing tabung
3. Tambahkan delapan tetes setiap larutan karbohidrat kedalam tabung yang telah berisi reagen benedict
4. Semua tabung dipanaskan kewaterbath selama 3 menit
5. Amati perubahan yang terjadi

4.3 Uji Barffoed
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Isi tabung reaski masing-masing 3 ml reagen barffoed
3. Tambahkan 1 ml larutan karbohidrat kemasing-masing tabung
4. Masukkan dalam waterbath selama 1 menit
5. Amati perubahannya

4.4 Uji Seliwanof
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Isi masing-masing 3 ml reagen seliwanof
3. Tambahkan 3 tetes disetiap tabung dengan larutan karbohidrat
4. Panaskan didalam penangas air sampai terlihat warna didalam tabung tersebut
5. Amati perubahannya
4.5 Uji Iodin
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Pipet masing-masing 3 ml larutan amylum
3. Kemudian tabung pertama ditambahkan 2 tetes air
4. Tabung kedua ditambahkan 2 tetes larutan HCL 6 N
5. Pada tabung ketiga ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 6 N

5. HASIL

5.1 Uji Molisch
No Sampel Reagen Mollisch H2SO4
1 Glukosa 1% Endapan hitam dipermukaanya Cincin Ungu
2 Laktosa 1% Jernih Cincin Ungu
3 Amylum 1% Endapan hitam dipermukaanya Cincin Ungu
4 Galaktosa 1% Jernih Cincin Ungu
5 Sukrosa 1% Endapan hitam dipermukaanya Cincin Ungu
6 Maltosa 1% Jernih Cincin Ungu

5.2 Uji Benedich
No Sampel Reagen Benedict Dipanaskan
1 Glukosa 1% Biru Jernih Hijau kecoklatan 1
2 Laktosa 1% Biru Jernih Hijau 4
3 Amylum 1% Biru Jernih Hijau 6
4 Galaktosa 1% Biru Jernih Hijau 3
5 Sukrosa 1% Biru Jernih Hijau 2
6 Maltosa 1% Biru Jernih Hijau 5

5.3 Uji Barffoed
No Sampel Reagen Barfoed Setelah dipanaskan
1 Glukosa 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan
2 Laktosa 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan
3 Amylum 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan
4 Galaktosa 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan
5 Sukrosa 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan
6 Maltosa 1% Biru Jernih Tidak ada perubahan

5.4 Uji Seliwanof
No Sampel Reagen seliwanof Setelah dipanaskan
1 Glukosa 1% Pink Jernih Orange 3
2 Laktosa 1% Pink Jernih Tidak berubah
3 Amylum 1% Pink Jernih Orange 2
4 Galaktosa 1% Pink Jernih Orange 4
5 Sukrosa 1% Pink Jernih Orange tua 1
6 Maltosa 1% Pink Jernih Tidak berubah

5.5 Uji Iodin
No Sampel Amylum&Iodin Setelah dipanaskan
1 Air Biru Tua Biru Gelap
2 HCL Biru Tua Biru Hilang
3 NaOH Biru tua Biru hilang

6. PEMBAHASAN
6.1 Uji Molisch
Uji molisch adalah uji umum untuk karbohidrat,uji ini sangat efektif untuk senyawa-senyawa yang dapat dihidrasi oleh asam pekat menjadi senyawa furtural atau senyawa furtural yang tersubsidi seperti hidroksimetil furtural .
6.2 Uji Beneditct
Uji benedict berdasarkan reduksi CU++ menjadi CU+.pada proses kupri dalam suasana alkalis biasanya ditambah zat pengkompleks seperti citrate pada larutan benedict atau larutan fehling untuk mencegah pengendapan Cu(OH)2 atau CuO dalam natrium hidroksida.
6.3 Uji Barffoed
Dengan menggunakan reagen berfoed yang mengandung koper acetate di dalam asam acecate maka karbohidrat membedakan monosakarida dan disakarida dengan cara mengontrol kondisi-kondisi seperti pH dana waktu pemanasan.
6.4 Uji Seliwanof
Reaksi spesifik lainnya untuk karbohidrat tertentu adalah uji seliwanof.reaksi seliwanof disebabkan perubahan fruktosa oleh asam chlorida panas menjadi levulinat dan hidroksimetil fultural,selanjutnya kondensasi hikroksimetil dengan resersinal akan menghasilkan senyawa. Sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi glukosa akan memberikan reaksi yang positif.
6.5 Uji Iodin
Uji Iodium untuk membedakan amylum dan glikogen
7. KESIMPULAN
7.1 Uji Molisch
Dari percobaan uji molisch dapat disimpulkan bahwa setelah larutan tersebut diberi reagen molisch dan H2SO4 (P) maka larutan tersebut mengandung karbohidrat
7.2 Uji Benedich
Dari percobaan uji benedich maka dapat disimpulkan bahwa kelima larutan tersebut dapat mereduksi karena memiliki gugus aldehid.
7.3 Uji Berffoed
Dalam uji ini tidak ditemukan reaksi spesifik yang terjadi
7.4 Uji Seliwanof
Uji seliwanof digunakan untuk membedakan zat karbohidrat sukrosa dan fruktosa dimana akan menghasilkan warna orange.
7.5 Uji Iodin
Dengan Penambahan amylum pada air,HCL dan NaOH lalu ditambah dengan iodine akan terjadi warna biru tua.jadi dapat disimpulkan bahwa sample tersebut memiliki amylum (bersifat spesifik) yang sangat kuat.

8. PENGESAHAN

Pembimbing I

Nur Adi S,Si.M.Kes Pembimbing II

Dra. Hj.Suryaningsih Soeleman Apt

DAFTAR PUSTAKA

Nur Adi,S.Si M.Kes 2008/2009 :” Penuntun Praktikum Biokimia”. Poltekkes Makassar

LAMPIRAN
A. UJI MOLISCH
1. warna yang terlihat diantara permukaan dua larutan adalah warna ungu,sehingga membentuk sebuah cincin ungu.
2. Banyak protein memberikan uji molisch yang posistif karena memiliki senyawa-senyawa yang dapat dihidrasi oleh asam pekat menjadi senyawa furtural atau senyawa furtural yang tersubsitusi seperti hidroksimetil furtural.
B. UJI BENEDICT
1. Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau,kuning atau merah bata
2. Senyawa selain koper yang dapat dipakai yaitu natrium citrat karena berfungsi sebagai pengkompleks
3. Fungsi natrium citrate adalah untuk mencegah pengendapanCuCO3 dalam larutan Natrium Carbonat.
4. Reagen benedict adalah larutan pereaksi yang mengandung kuprisult,Natrium Carbonat dan Natrium Citrat sedangkan Reagen Fehling adalah pereaksi yang dapat direduksi selain karbonat yang mempunyai sifat mereduksi yang dpaat direduksi oleh reduktor lainnya.
5. Senyawa dalam urine yang dapat mengganggu uji fehling adalah senyawa yang memiliki gugug aldehid atau gugug keton bebas dan biasanya nerupa asam urat dan creatinine.
C. UJI BARFOED
1. Larutan yang muda dioksidasi yaitu galaktosa (akan teroksidasi menjadi asam galaktonat) dan glukosa (akan Menjadi asam glukonat ).
2. Bila terlalu dipanaskan maka akan terjadi perubahan warna sehingga hasil yang didapat bisa menjadi positif palsu.
3. Reagen berffoed adalah pereaksi yang terdiri dari kuprisulfat dan asam acetate dalam air dan digunakan untuk membedakan antara monosakarida dan disakarida,sedangkan reagen benedict adalah pereaksi yang mengandung kuprisulfat,natrium carbonat,dan natrium citrate.
4. Uji barffoed dan uji benedict dapat digunakan untuk penentuan hula urine karena keduanya memiliki dasar reduksi dari Cu ++ menjadi Cu+

D. UJI SELIWANOF
1. Larutan yang memberi uji posistif pada uji seliwanof adalah sukrosa karena jika sukrosa dihidrolisis maka akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
2. Uji seliwanof dapat membedakan sukrosa dan fruktosa karena druktosa akan diakibatkan oleh asam chlorida panas menjadi asam levulinat dan hidroksimetil fultural,sedangkan sukrosa mudah dihidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa memberikan reaksi yang positif
3. Bila larutan glukosa dan maltosa yang mengandung reagen seliwanof dipanaskan secara berlebihan maka akan mengakibatkan aldosa-aldosa yang terkandung akan diubah leh HCL menjadi Laktosa.

E. UJI IODIN
1. Zat yang memberi warna dengan iodine adalah suatu zat berada dalam susana asam
2. Keampuhan /ketelitian uji iodine dibandingkan dengan uji antron ialah untuk membedakan amylum dan glikogen.

BAB II
ANALISA KUALITATIF PROTEIN

1. TUJUAN
1.1 Untuk mengidentifikasi kandungan tirosin pada protein
1.2 Menunjukkan adanya inti indol dari triptophan
1.3 Untuk Menunjukkan adanya asam amino
1.4 Untuk mengetahui adan ikatan peptida dalam protein
1.5 Untuk penetralan muatan

2. LANDASAN TEORI
Dalam pemeriksaan Analisis kualitatif protein,maka dapat disimpulkan bahwa apakah dalam larutan uji yang telah disediakan tersebut memiliki kandungan protein atau tidak dengan cara melihat reaksi yang terjadi dalam pemeriksaan yang telah diketahui prosedurnya

3. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat yang digunakan
 Erlenmeyer
 Pepet ukur
 Tabung reaksi
 Gelas ukur
 Waterbath
 Bulp
 Pipet tetes

3.2 Bahan yang digunakan
 Larutan Albumin telur yang telah diencerkan
 Reagen Millon
 Reagen Hopkins Cole
 H2SO4 Pekat
 Reagen Ninhidrin 0,1 %
 Reagen NaOH 2,5 N
 CuSO4 0,01 M
 Pb Asetat 0,2 M
 HgCl2 0,2 M

4. PROSEDUR KERJA

4.1 Uji Millon
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pipet larutan albumin telur sesuia dengan pengenceran kedalam tabung sebanyak 3 ml
3. Tambahkan 5 tetes reagen millon
4. Lihat perubahan yang terjadi
5. Panaskan dalam penangas air dan lihat perubahannnya

4.2 Uji Hoppins Cole
1. Sipakan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pipet larutan albumin telur sebanyak 2 ml kedalam tabung sesuai dengan pengencerannya
3. Lihat reaksi yang terjadi
4. Tambahkan sedikit demi sedikit larutan H2SO4 pekat sebanyak 5 ml melalui dinding tabung
5. Amati warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan dan lihat cincin yang terbentuk

4.3 Uji Ninhidrin
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pipet sebanyak 3 ml larutan albumin protein sesuai dengan pengenceran kedalam tabung
3. Tambahkan larutan ninhidrin sebanyak 0,5 ml kemasing-masing tabung tersebut
4. Panaskan hingga mendidih dan lihat perubahannya

4.4 Uji Biuret
1. Siapakan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pipet sebanyak 3 ml larutan albumin protein sesuai dengan pengencerannya kemasing-masing tabung
3. Tambahkan 1 ml NaOH 2,5 N kemasing-masing tabung
4. Lihat Warna yang terjadi
5. Aduk jika timbul warna violet tambahkan lagi setetes atau 2 tetes CuSO4
6. Lihat perubahan warnanya

4.5 Uji Pengendapan dengan logam
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
2. Pipet sebanyak 3 ml larutan albumin protein sesuai dengan pengencerannya kemasing-masing tabung
3. Tambahkan 5 tetes HgCL2 0,2 M
4. Lihat perubahan warnanya
5. Ulangi pemeriksaan dengan menggunakan Pb Acetat

5. HASIL
5.1 Uji Millon
No Tabung Pengenceran Uji Millon Dipanaskan
1 Pengenceran I Endapan Kuning kehijauan Endapan putih &Endapan biru kental
2 Pengenceran 2 Endapan Kuning kehijauan keruh Endapan putih kebiru-biruan agak kental

3 Pengenceran 3 Endapan putih Kehijauan keruh Endapan putih kebiru-biruan agak keruh
4 Pengenceran 4 Endapan putih keruh Endapan kebiru-biruan dan jernih

5.2 Uji Hopkins Cole
No Tabung Pengenceran Uji Hoppkins H2SO4 Pekat
1 Pengenceran I Endapan Putih keruh kental Cincin coklat larutan kuning diatasnya dan dasar bening
2 Pengenceran 2 Endapan Putih keruh agak kental Cincin tidak jelas larutan kuning bening

3 Pengenceran 3
Endapan putih keruh Larutan kuning jernih
4 Pengenceran 4 Endapan putih encer
Larutan kuning jernih

5.3 Uji Ninhidrin
No Tabung Pengenceran Uji Ninhidrin Dipanaskan
1 Pengenceran I Endapan Putih keruh berawan Endapan putih kemerah-merahan
2 Pengenceran 2 Endapan Putih Endpaan putih

3 Pengenceran 3
Larutan bening endapan sedikit Endpaan putih keruh
4 Pengenceran 4
Larutan keruh Endapan putih

5.4 Uji Biuret
No Tabung Pengenceran NaOH CuSO4
1 Pengenceran I Endapan Putih bening Larutan bagian atas ungu bawah bening
2 Pengenceran 2 Larutan jernih Larutan bening keunguan

3 Pengenceran 3 Larutan jernih Larutan bagian atas ungu bawah bening
4 Pengenceran 4 Larutan jernih Larutan bening keunguan

5.5 Uji Pengendapan dengan logam
No Tabung Pengenceran Uji Pengendapan dengan logam Pb Asetat
1 Pengenceran I Endapan Putih keruh dan kental Endapan putih larutan keruh
2 Pengenceran 2 Endapan Putih keruh dan kental Larutan keruh

3 Pengenceran 3 Endapan Putih keruh dan kental Larutan agak keruh
4 Pengenceran 4 Endapan Putih keruh dan kental Larutan jernih

6. PEMBAHASAN
6.1 Uji Millon
Reagen yang dipanaskan dalam uji millon adalah larutan merkuri dan ion merkuro dalam suasana asam nitrat.Warna merah yang terbentuk mungkin adalah garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi
6.2 Uji Hopkins Cole
Reagen yang digunakan dalam uji hopkins cole mengandung asam glikosilat atau dapat juga diganti dengan formaldehid dengan penambahan asam sulfat pekat sedikit.Karena triptophan berkondensasi dengan aldehid dalam suasana asam sulfat dan membentuk kompleks berwarna.
6.3 Uji Ninhidrin
Apabila ninhidrin dipanaskan dengan asam amino,maka akan terbentuk komplek warna.Asam-asam Amino seperti alanin,lisin,leusin,isoleusin,prolin dan hidroksiprolin memberikan warna kompleks yang berbeda warnanya dengan asam amino lainnya.Kompleks berwarna yang terbentuk mengandung dua molekul ninhidrin yang bereaksi dengan amonia setelah asam amino dioksidasi.
6.4 Uji Biuret
Biuret dihasilkan dengan cara memanaskan urea kira-kira pada suhu 180 O C. Dalam larutan basa biuret akan memberikan warna Violet denagn CuSO4.Pada reaksi ini kemungkinan terbentuk senyawa kompleks antara CU++ dengan pasangan elektron bebas dari gugus –NH ataupun gugus – CO dari rantai polipeptida.Syarat untuk dapat terjadi reaksi ini adalah adanya dua minimal ikatan peptida.Asam-asam amino tidak memberikan uji positif untuk reaksi ini kecuali asam amino histidin,serin dan treonin.
6.5 Uji Pengendapan dengan logam
Pada pH alkalis dari titik ureulitik,protein bermuatan Negatif dengan adanya ion positif dari logam akan terjadi penetralan muatan dan protein mendekati ureulitik sehingga mengendap.Endapaan akan larut dengan penambahan alkali encer.

7. KESIMPULAN
7.1 Uji Millon
Semakin sedikit dan semakin encer proteinnya maka waktu untuk bereaksi semakin cepat .
7.2 Uji Hopkins Cole
Semakin banyak larutan peroteinnya yang terkandung maka semakin kental endapannya.
7.3 Uji Ninhidrin
Semakin Banyak proteinnya maka reaksi semakin cepat terjadi
7.4 Uji Biuret
Semakin Banyak proteinnya maka reaksi semakin cepat terjadi
7.5 Uji Pengendapan dengan logam
Semakin sedikit Proteinnya semakin putih warnanya

8. PENGESAHAN

Pembimbing I

Nur Adi S,Si.M.Kes Pembimbing II

Dra. Hj.Suryaningsih Soeleman Apt

DAFTAR PUSTAKA

Nur Adi,S.Si M.Kes 2008/2009 :” Penuntun Praktikum Biokimia”. Poltekkes Makassar



Paradigma Kesehatan
Mei 8, 2009, 3:34 am
Filed under: Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

Konsep pendekatan dalam upaya penanganan kesehatan penduduk mengalami banyak perubahan sejalan dengan pemahaman dan pengetahuan kita bagaimana suatu masyarakat menghayati dan menghargai bahwa kesehatan itu merupakan “Human Capital” yang sangat besar nilainya. Pemahaman masyarakat tentang sebab musabab penyakit, konsep rumah sakit dan pemahaman bahwa upaya kesehatan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia akan mendasari bagaimana upaya kesehatan di suatu negara sebaiknya diselenggarakan.

Sampai saat ini di banyak negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia apabila berbicara masalah kesehatan pada umumnya asosiasi kita tertuju pada pengobatan penyakit, rumah sakit, puskesmas, poliklinik, sehingga pembiayaan rumah sakit dan pembiayaan penanganan orang sakit merupakan komponen utama pembiayaan upaya kesehatan. Penanganan kesehatan penduduk masih berupa program-program konvensional masih menekankan pada pengembangan rumah sakit – rumah sakit, penanganan penyakit secara individual, spesialistis terutama penanganan peristiwa sakit secara episodik. Program kesehatan yang mengutamakan upaya kuratif dalam jangka panjang tidak menguntungkan. Oleh karena berapapun besar biaya yang disediakan akan tetap kurang, oleh karena permintaan akan pelayanan medis kuratif akan selalu meningkat. Upaya kesehatan kuratif khususnya rumah sakit akan cenderung berkumpul di tempat yang banyak uang, yaitu di kota-kota besar saja. Upaya kesehatan yang bersifat kuratif tidak akan membawa masyarakat ke sehat produktif secara lebih cost efektif. Hal ini menyebabkan upaya kesehatan yang berorientasi kuratif dari segi ekonomi bersifat konsumtif tidak produktif.

Dipandang dari segi ekonomi melakukan investasi pada orang yang tidak atau belum sakit lebih “cost effective” daripada terhadap orang sakit karena investasi pada orang “sehat” dan orang ”tidak sakit” lebih dekat ke produktivitas ketimbang investasi pada orang sakit. Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Kondisi pembangunan kesehatan secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat, yaitu angka kematian bayi, kematian ibu melahirkan, prevalensi gizi kurang dan umur angka harapan hidup.

Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan kesehatan yang demikian yang menjadi dambaan setiap orang sepanjang hidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak bisa ditolak meskipun kadang-kadang bisa dicegah atau dihindari.

Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain.

Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradap-tasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya (1). UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Masalah Kesehatan Masyarakat di Indonesia

Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil, kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak, GAKY terutama didaerah endemic, kekurangan vitamin A pada anak, anemia pada kelompok mahasisiwa, anak-anak usia sekolah, masih tingginya angka BBLR, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. Permasalahan tersebut harus ditangani secarasungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.

Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku. Transisi kesehatan ini padadasarnya telah menciptakan bebab ganda (double burden) masalah kesehatan.

  1. Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sermentara masalah bayi dan BALITA tetap menggantung.
  2. Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.

B. Masalah Sehat dan Sakit

Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, sosial budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being, merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:

  1. Environment atau lingkungan.
  2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
  3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
  4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kelas sosial, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variabel-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.

Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia. Pernyataan tentang pengetahuan ini dalam tradisi klasik Yunani, India, Cina, menunjukkan model keseimbangan (equilibrium model) seseorang dianggap apabila unsur -unsur utama yaitu panas dingin dalam tubuhnya berada dalam keadaan yang seimbang. Unsur-unsur utama ini tercakup dalam konsep tentang humors, ayurveda dosha, yin dan yang. Departemen Kesehatan RI telah mencanangkan kebijakan baru berdasarkan paradigma sehat.

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral, dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan perlindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan penduduk yang sakit.

Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun teta p mengupayakan yang sakit segera sehat. Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati penyakit.

Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai konotasi biomedik dan sosio kultural. Dalam bahasa Inggris dikenal kata disease dan illness sedangkan dalam bahasa Indonesia, kedua pengertian itu dinamakan penyakit. Dilihat dari segi sosio kultural terdapat perbedaan besar antara kedua pengertian tersebut. Dengan disease dimaksudkan gangguan fungsi atau adaptasi dari proses-proses biologik dan psikofisiologik pada seorang individu, dengan illness dimaksud reaksi personal, interpersonal, dan kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman.

Para dokter mendiagnosis dan mengobati disease, sedangkan pasien mengalami illness yang dapat disebabkan oleh disease illness tidak selalu disertai kelainan organik maupun fungsional tubuh. Tulisan ini merupakan tinjauan pustaka yang membahas pengetahuan sehat-sakit pada aspek sosial budaya dan perilaku manusia; serta khusus pada interaksi antara beberapa aspek ini yang mempunyai pengaruh pada kesehatan dan penyakit. Dalam konteks kultural, apa yang disebut sehat dalam suatu kebudayaan belum tentu disebut sehat pula d alam kebudayaan lain. Di sini tidak dapat diabaikan adanya faktor penilaian atau faktor yang erat hubungannya dengan sistem nilai.

C. Konsep Sehat Sakit Menurut Budaya Masyarakat

Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, sosial dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek Definisi WHO (1981): Health is a state of complete physical, mental and social well -being, and not merely the absence of disease or infirmity. WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya.

Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan di pandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar.

Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit. Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu: Naturalistik dan Personalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidak seimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan.

Konsep sehat sakit yang dianut pengobat tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman, dan dapat melakukan aktivitas sehari –hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Sedangkan konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung). Menelusuri nilai budaya, misalnya mengenai pengenalan kusta dan cara perawatannya.

Kusta telah dikenal oleh etnik Makasar sejak lama. Adanya istilah kaddala sikuyu (kusta kepiting) dan kaddala massolong (kusta yang lumer), merupakan ungkapan yang mendukung bahwa kusta secara endemik telah berada dalam waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat tersebut. Hasil penelitian kualitatif dan kuantitatif atas nilai – nilai budaya di Kabupaten Soppeng, dalam kaitannya dengan penyakit kusta (Kaddala,Bgs.) di masyarakat Bugis menunjukkan bahwa timbul dan diamalkannya leprophobia secara ketat karena menurut salah seorang tokoh budaya, dalam nasehat perkawinan orang-orang tua di sana, kata kaddala ikut tercakup di dalamnya.

Disebutkan bahwa bila terjadi pelanggaran melakukan hubungan intim saat istri sedang haid, mereka (kedua mempelai) akan terkutuk dan menderita kusta/kaddala. Ide yang bertujuan guna terciptanya moral yang agung di keluarga baru, berkembang menuruti proses komunikasi dalam masyarakat dan menjadi konsep penderita kusta sebagai penanggung dosa. Pengertian penderita sebagai akibat dosa dari ibu-bapak merupakan awal derita akibat leprophobia.

Rasa rendah diri penderita dimulai dari rasa rendah diri keluarga yang merasa tercemar bila salah seorang anggota keluarganya menderita kusta. Dituduh berbuat dosa melakukan hubungan intim saat istri sedang haid bagi seorang fanatik Islam dirasakan sebagai beban trauma psikosomatik yang sangat berat. Orang tua, keluarga sangat menolak anaknya didiagnosis kusta. (H.M. Rusli Ngatimin, 1992).

Pada penelitian Penggunaan Pelayanan Kesehatan Di Propinsi Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat (1990), hasil diskusi kelompok di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa anak dinyatakan sakit jika menangis terus, badan berkeringat, tidak mau makan, tidak mau tidur, rewel, kurus kering. Bagi orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit kalau sudah tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin, pusing, lemas, kurang darah, batuk – batuk, mual, diare. Sedangkan hasil diskusi kelompok di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah -muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak.

Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda – tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja.

Pada penyakit batin tidak ada tanda-tanda di badannya, tetapi bisa diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya lincah, kuat bekerja, suhu badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang, sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit – sakit badan. Sudarti (1987) menggambarkan secara deskriptif persepsi masyarakat beberapa daerah di Indonesia mengenai sakit dan penyakit; masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan individu mengalami serangkaian gangguan fisik yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau “kantong kering” (tidak punya uang).

Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :

  1. Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia
  2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.
  3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.).

Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat -obatan, ramuan – ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun, kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit.

Beberapa contoh penyakit pada bayi dan anak sebagai berikut:

  1. Sakit demam dan panas.

Penyebabnya adalah perubahan cuaca, kena hujan, salah makan, atau masuk angin. Pengobatannya adalah dengan cara mengompres dengan es, oyong, labu putih yang dingin atau beli obat influensa. Di Indramayu dikatakan penyakit adem meskipun gejalanya panas tinggi, supaya panasnya turun. Penyakit tampek (campak) disebut juga sakit adem karena gejalanya badan panas.

  1. Sakit mencret (diare).

Penyebabnya adalah salah makan, makan kacang terlalu banyak, makan makanan pedas, makan udang, ikan, anak meningkat kepandaiannya, susu ibu basi, encer, dan lain – lain. Penanggulangannya dengan obat tradisional misalkan dengan pucuk daun jambu dikunyah ibunya lalu diberikan kepada anaknya (Bima Nusa Tenggara Barat) obat lainnya adalah Larutan Gula Garam (LGG), Oralit, pil Ciba dan lain -lain. Larutan Gula Garam sudah dikenal hanya proporsi campurannya tidak tepat.

  1. Sakit kejang-kejang

Masyarakat pada umumnya menyatakan bahwa sakit panas dan kejang-kejang disebabkan oleh hantu. Di Sukabumi disebut hantu gegep, sedangkan di Sumatra Barat disebabkan hantu jahat. Di Indramayu pengobatannya adalah dengan dengan pergi ke dukun atau memasukkan bayi ke bawah tempat tidur yang ditutupi jaring.

  1. Sakit tampek (campak)

Penyebabnya adalah karena anak terkena panas dalam, anak dimandikan saat panas terik, atau kesambet. Di Indramayu ibu-ibu mengobatinya dengan membalur anak dengan asam kawak, meminumkan madu dan jeruk nipis atau memberikan daun suwuk, yang menurut kepercayaan dapat mengisap penyakit. (Nizar Zainal Abidin)

D. Pengertian Paradigma

Stepen R. Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” menguraikan “The word paradigm comes from the Greek. It was originally a scientific form, and is more commonly used today to mean a model theory, concept, perception, orientation, assumption or frame reference. In the more general sense, it’s the way we see the world, not in term or our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting”.

Dalam makna yang lebih popular dapat diartikan visi serta orientasi kita terhadap realitas. Paradigma berkembang sebagai hasil sintesa dalam kesadaran manusia terhadap informasi – informasi yang diperolehnya apakah dari pengalaman ataupun dari penelitian.

E. Strategi Paradigma Kesehatan

Paradigma berkembang sebagai hasil sintesa dalam kesadaran manusia terhadap informasi-informasi yang diperoleh baik dari pengalaman ataupun dari penelitian. Dalam perkembangan kebijaksanaan pembangunan kesehatan maka memasuki era reformasi untukIndonesia baru telah terjadi perubahan pola pikirdan konsep dasar sdtrategispembangunan kesehatan dalam bentuk paradigma sehat. Sebelumnya pembangunan kesehatan cenderung menggunakan paradigma sakit dengan menekankan upaya-upaya pengobatan (kuratif) terhadap masyarakat Indonesia.

Perubahan paradigma kesehatan dan pengalaman kita dalam menangani masalah kesehatan di waktu yang lalu, memaksa kita untuk melihat kembali prioritas dn penekanan program dalam upaya meningkatkan kesehatan penduduk yang akan menjadi pelaku utama dan mempertahankan kesinambungan pembangunan. Untuk membentuk manusia Indonesia menjadi sumber daya manusia sehat-produktif-kreatif, kita harus berfikir dan agak berbeda dengan apa yang kita lakukan sekarang. Kita perlu re-orientasi dalam strategi dan pendekatan. Pembangunan penduduk yang sehat tidak biasa dilakukan melalui pengobatan yang sedikit saja.

Perubahan paradigma dan re-orientasi mendasar yang perlu dilakukan adalah paradigma atau konsep yang semula menekankan pada penyembuhan penyakit berupa pengobatan dan meringankan beban penyakit diubah ke arah upaya peningkatan kesehatan dari sebagian besar masyarakat yang belum jatuh sakit agar bias lebih berkontribusi dalam pembangunan.

F. Strategi dan Sasaran Utama Pembangunan Kesehatan

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional yang diupayakan oleh pemerintah. Dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di tengah beban dan permasalahan kesehatan yang semakin pelik, dibutuhkan strategi jitu untuk menghadapinya. Dalam mengatasi masalah kesehatan dapat digunakan beberapa strategi utama, antara lain:

  1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.

Sasaran utama strategi ini adalah seluruh desa menjadi desa siaga, seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat serta seluruh keluarga sadar gizi.

  1. Meningkatkan akses masyarakat tehadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Sasaran utama strategi ini adalah ; Setiap orang miskin mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu; setipa bayi, anak, dan kelompok masyarakat risiko tinggi terlindungi dari penyakit; di setiap desa tersedia SDM kesehatan yang kompeten; di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar; setiap Puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di wilayah kerjanya; pelayanan kesehatan di setiap rumah sakit, Puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu.

  1. Meningkatkan sistem surveillans, monitoring dan informasi kesehatan.

Sasaran utama dari strategi ini adalah : setiap kejadian penyakit terlaporkan secara cepat kepada desa/lurah untuk kemudian diteruskan ke instansi kesehatan terdekat; setiap kejadian luar biasa (KLB) dan wabah penyakit tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan masyarakat; semua ketersediaan farmasi, makanan dan perbekalan kesehatan memenuhi syarat; terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai dengan standar kesehatan; dan berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence based di seluruh Indonesia.

  1. Meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Sasaran utama dari strategi ini adalah : pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran pemerintah pusat dan daerah; anggaran kesehatan pemerintah diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan; dan terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi rakyat miskin.

G. Perilaku Sehat dan Perilaku Sakit

Penelitian-penelitian dan teori-teori yang dikembangkan oleh para antropolog seperti perilaku sehat (health behavior), perilaku sakit (illness behavior) perbedaan antara illness dan disease, model penjelasan penyakit (explanatory model ), peran dan karir seorang yang sakit (sick role), interaksi dokter-perawat, dokter-pasien, perawat-pasien, penyakit dilihat dari sudut pasien, membuka mata para dokter bahwa kebenaran ilmu kedokteran modern tidak lagi dapat dianggap kebenaran absolut dalam proses penyembuhan. Perilaku sakit diartikan sebagai segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan, sedangkan perilaku sehat adalah tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergizi.

Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat. Sesuai dengan persepsi tentang sakit dan penyakit maka perilaku sakit dan perilaku sehat pun subyektif sifatnya. Persepsi masyarakat tentang sehat – sakit ini sangatlah dipengaruhi oleh unsur pengalaman masa lalu di samping unsur sosial budaya. Sebaliknya petugas kesehatan berusaha sedapat mungkin menerapkan kriteria medis yang obyektif berdasarkan gejala yang tampak guna mendiagnosis kondisi fisik individu.

BAB III

KESIMPULAN

Cara dan gaya hidup manusia, adat istiadat, kebudayaan, kepercayaan bahkan seluruh peradaban manusia dan lingkungannya berpengaruh terhadap penyakit. Secara fisiologis dan biologis tubuh manusia selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia mempunyai daya adaptasi terhadap lingkungan yang selalu berubah, yang sering membawa serta penyakit baru yang belum dikenal atau perkembangan/perubahan penyakit yang sudah ada.

Paradigma sehat merupakan suatu strategi baru pembangunan kesehatan yang memandang masalah kesehatan sebagai suatu variable kontinyu, direncanakan dalam suatu system desentralisasi, dengan kegiatan pelayanan yang senantiasa bersifat promotif untuk mengentaskan kesehatan masyarkat, oleh tenaga kesehatan professional bersama masyarakat yang partisipatif.

Selain itu, dalam paradigma sehat ini pengukuran derajat kesehatan masyarakat tidak semata-mata dilihat dari penurunan kesakitan/kematian (dengan memakai indicator negatif), tetapi lebih ditekankan pada pencapaian hasil peningkatan pada angka kesehatan (indicator Positif). Nilai indikator positif ini diperoleh sebagai dampakdari upaya kesehatan promotif yang telah dilaksanakan oleh tenaga kesehatan professional dan didukung besarnya penempatan biaya upaya promotif yang sesuai. Kajian mengenai konsekuensi kesehatan perlu memperhatikan konteks budaya dan sosial masyarakat .



Hello world!
Mei 3, 2009, 10:40 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!